Author Archive: dimassalomo

Analisis Gempabumi Cipatujah, Tasikmalaya 15 Desember 2017 Mw 6,5

Gambar 1. Peta yang menunjukkan lokasi episenter gempa bumi relatif terhadap model slab zona subduksi USGS (Hayes dkk., 2012). Juga ditunjukkan hasil bola fokal gempa dari USGS.

Pada tanggal 15 Desember 2017, sebagai penutup hari, terjadi gempa bumi tektonik dengan kekuatan Mw 6,5 di selatan Jawa Barat. USGS merilis gempa terjadi pukul 16:47:56 UTC atau 23:47:56 WIB (local time). Gempa bumi ini dirasakan oleh masyarakat banyak bahkan dirasakan hingga di Jakarta dengan intensitas II-III MMI. BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami atas gempa ini dan kemudian telah dicabut pada pukul 02:28 WIB (local time). Dampak dari gempa ini di antaranya yaitu beberapa rumah roboh dan bangunan retak-retak di Tasikmalaya, Jawa Barat. Continue reading →

Advertisements

Tutorial for Teleseismic Body-Wave Inversion Program

We need to know the spatial and temporal behaviors of earthquake’s rupture in order to study about the physics of earthquake sources.

This is one of fundamental method proposed by Professor M. Kikuchi and Professor Hiroo Kanamori [Link] to calculate teleseismic body-wave inversion for modelling earthquake source.

Nowadays, there are so many methods and approaches to get more information of detailed rupture process. A very good paper review has been done by Professor Satoshi Ide [Link 1, Link 2] entitled “Slip Inversion” as a book chapter in Treatise on Geophysics [Link]. This paper give us more detail explanation and development history of methods/theories about slip inversion of earthquake.

There is also a very helpful book written by Prof. Agustin Udias, Prof. Raul Madariaga, and Prof. Elisa Buforn, entitled “Source Mechanisms of Earthquakes, Theory and Practices” [Link]. This book also give us more detail theories, methodology and some technical issues to provide source mechanism of earthquake. Continue reading →

Tutorial to Calculate Stress Changes by Earthquakes

(1) STATIC STRESS CHANGES

ΔCFF = Δτ + μ(Δσn + ΔP)

or ΔCFF = Δτ + μ’ Δσn

We can calculate static stress changes using software Coulomb [Link]

Assumption: computed in a homogeneous elastic half-space (Okada, 1992) [Link]

Some parameter need:

μ’ = 0.4  [possible value 0.0 -0.8] [Link] Strong fault: large μ (> 0.5). For example Sandstone, μ=06~0.8. Continue reading →

FFM Database

Here I compiled some earthquake finite fault database:

Dr. Chen Ji database

Dr. Yuji Yagi database

Dr. Linling Ye database

Caltech database

SRCMOD (Dr. P. Martin Mai) Continue reading →

Statistik Gempabumi Yang (Diduga) Dipicu Tidal-Stress

Seismolog GNS Science, John Ristau mengatakan bahwa supermoon dapat menjadi salah satu faktor pemicu gempabumi Canterbury utara, Selandia Baru yang terjadi 13 November 2016 dengan kekuatan Mw 7,8 [www.newshub.co.nz, 2016].

Ketika didapatkan gaya pasang-surut yang berasosiasi dengan posisi bulan, hal itu menyebabkan peningkatan tekanan (stress) di kerak bumi sehingga kita perlu berpikir apa yang bisa dan berpotensi akan terjadi. Ketika hal tersebut terjadi pada wilayah yang berpotensi terjadi penyesaran karena ada dalam titik paling kritis-nya, hal ini membuat tidal-stress menjadi faktor pemicu yang dapat segera menyebabkan gempabumi besar.

Kemungkinan bahwa tidal-stress dapat memicu gempabumi besar ini masih menjadi perdebatan.

Ringkasan Paper Ide et al. (2016), Earthquake potential revealed by tidal influence on earthquake size–frequency statistics, Nature Geoscience [Link]

Kemungkinan bahwa stress pasang-surut dapat memicu gempabumi sudah lama diperdebatkan. Secara khusus, hubungan sebab-akibat yang jelas antara gempa-gempa kecil dan fase stress pasang-surut sulit dipahami. Continue reading →

Sinyal Seismik Ujicoba Nuklir Korea Utara 9 September 2016

Pada tanggal 9 September 2016, stasiun-stasiun seismik di hampir seluruh dunia kembali kedatangan sinyal seismik yang tidak biasanya. Sinyal dari aktivitas seismik tidak biasa ini (unusual seismic event) ini ternyata bersumber dari wilayah Korea Utara. Berdasarkan kemiripan dengan sinyal-sinyal serupa yang telah terjadi beberapa kali sebelumnya, disimpulkan bahwa kejadian ini merupakan ujicoba nuklir bawah tanah Korea Utara yang ke-5 (atau ke-6). Continue reading →

Transfer Stress dan Pemicuan Aktivitas Seismik

Transfer Stress dan Pemicuan Aktivitas Seismik

Oleh: Dimas Sianipar

Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG)

dimas.salomo@bmkg.go.id; dimas.salomo@gmail.com

Pemicuan aktivitas seismik merupakan proses yang mana perubahan-perubahan stress yang terkait dengan sebuah gempabumi dapat menimbulkan dan/atau mempercepat dan/atau memperlambat aktivitas seismik di wilayah sekitarnya atau memicu aktivitas seismik lainnya pada jarak yang jauh [Freed, 2005].

Pemicuan aktivitas seismik dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan jenis transfer stress yang ditimbulkan oleh sebuah gempabumi [Freed 2005], yaitu: Continue reading →

Analisis Gempa Sumatera 2 Maret 2016 Mw 7,8

Telah terjadi gempa signifikan dengan pusat gempa yang berada di 662 km sebelah barat daya Muara Siberut, Kepulauan Mentawai, Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) segera mengeluarkan peringatan dini tsunami kurang dari lima menit sejak terjadinya gempa. Dalam pemutakhiran peringatan dini tsunami yang dikeluarkan BMKG, disebutkan pusat gempa berada pada koordinat 4,92° LS, 94,39° BT pada kedalaman 10 km. Gempa terjadi pada pukul 19:49 WIB tanggal 2 Maret 2016 ini.

GSI.active

Rekaman seismik gempa 2 Maret 2016 Mw 7,8 di stasiun GSI (Gunungsitoli, Nias)

Menurut United States Geological Survey (USGS), gempa terjadi pada pukul 12:49 UTC, dengan pusat gempa pada koordinat 4.908° LS, 94.275° BT pada kedalaman 24.0 km (14.9 mi). Episenter gempa ini berada di 659 km (409 mi) sebelah barat daya Muara Siberut, Kepulauan Mentawai. Posisi pusat gempa ini memiliki ketidakpastian ± 8.0 km untuk episenter dan ± 1.8 km untuk kedalaman. Perhitungan hiposenter gempa ini menggunakan sebanyak 124 fase gelombang seismik dengan jarak stasiun terdekat 778.79 km. Parameter gempa USGS ini cukup baik karena dihitung dengan distribusi stasiun dengan azimuthal gap sebesar 26 derajat. Sementara residual waktu tempuh perhitungan sebesar 1,59 sekon.

Posisi pusat gempa menunjukkan bahwa gempa ini kemungkinan besar tidak disebabkan oleh mekanisme subduksi lempeng. Posisi pusat gempa jauh di sebelah barat palung Sunda tempat zona subduksi berada. Berbeda dengan gempa Mentawai yang terjadi 25 Oktober 2010 yang menimbulkan tsunami. Gempa Mentawai 2010 memiliki sistem yang berbeda dengan gempa 2 Maret 2016 ini, karena gempa 2010 merupakan gempa yang terjadi pada sistem subduksi interplate. Gempa 2010 dikategorikan gempa tsunami earthquake yaitu gempa yang menimbulkan tsunami dengan magnitudo tsunami yang lebih besar dari yang diestimasi dari magnitudo seismik-nya, dikarenakan beberapa faktor yang mengamplifikasi besarnya tsunami. Jadi berbeda dengan gempa yang terjadi 2 Maret 2016 ini. Continue reading →

Gempa Tidak Biasa 6 Januari 2016 di Korea Utara

Pendahuluan

Pada tanggal 6 Januari 2016, terjadi sebuah gempa di kawasan Korea Utara, kawasan yang selama ini menjadi perhatian para ahli seismologi forensik (forensic seismology). Menarik perhatian karena di kawasan sekitar Pegunungan Sungjibaegam, tepatnya lokasi yang sangat dekat dengan fasilitas uji coba nuklir Punggye-ri Korea Utara, menjadi sumber dari rekaman seismik tidak biasa (unusual event) pada 2006, 2009, 2010 dan tahun 2013.

Yang menarik adalah kawasan tersebut bukanlah kawasan yang aktif secara seismik. Bila kita buka katalog gempa dari ISC, USGS, GFZ, rekaman gempa yang terjadi di pegunungan tersebut hanyalah rekaman gempa di sekitar fasilitas uji coba nuklir Punggye-ri pada 2006, 2009 dan 2013 tersebut.

Picture4

Seismisitas di sekitaran semenanjung Korea tahun 2006-2014 (Sianipar et al, 2015b). Gambar ini menunjukkan wilayah darat Korea Utara bukan sebuah wilayah seismik aktif, tidak ada rekaman gempa tektonik dangkal. Bintang merah merupakan episenter gempa Korea Utara 2013.

Uji Coba Nuklir Korea Utara

CTBTO, Badan PBB untuk pemantauan dan verifikasi pelarangan uji coba nuklir, telah mengumumkan secara resmi bahwa Korea Utara telah melakukan uji coba nuklir pada 2006, 2009 dan 2013 (sebanyak tiga kali).

Sementara event yang terjadi pada tahun 2010, masih menjadi perdebatan. Zhang dan Wen (2015) yang juga menganalisis event 2006, 2009 dan 2013, dalam penelitian mereka menyimpulkan bahwa event 2010 merupakan sebuah uji coba nuklir berdaya rendah (a low yield nuclear test) dengan kekuatan 1.44 +- 0.13.

Kesimpulan ini bersumber dari bukti-bukti seismologi yaitu dengan menerapkan metode waveform cross-correlation Match & Locate (M&L) yang mampu mendeteksi gempa-gempa mikro dengan menggunakan sinyal event  sebagai template-nya. Continue reading →

Memahami Surutnya Air Laut Sebelum Tsunami

Peristiwa surutnya air laut sebelum datangnya tsunami membawa kondisi yang tragis. Bagaimana tidak sesuatu yang menarik perhatian justru mendekatkan orang-orang pada bahaya. Beberapa kasus kejadian tsunami menunjukkan bahwa banyaknya korban jiwa karena fenomena ini. Air laut yang surut menjadi magnet tersendiri bagi kaum awam. Tak sadar bahaya yang sangat besar sudah mengintai. Banyak ikan yang terdampar, dasar laut yang kering menjadi pemandangan yang langka untuk dilihat. Sebenarnya bagaimana menjelaskan fenomena surutnya air laut sebelum tsunami? Penjelasan di sini aku ambil dari materi kuliah Tsunami Lanjutan oleh Bapak Dr. P. J. Prih Harjadi.

Peristiwa tsunami yang diawali dengan surutnya air laut dalam bahasa ilmiah disebut Initial Withdrawal of the Ocean (IWO). Peristiwa ini ternyata tidak selalu terjadi walaupun pada daerah yang sama dengan zona sumber gempa yang sama. Peristiwa IWO tidak bisa diprediksi terjadi hanya dari magnitudo gempanya, tipe mekanisme sumbernya ataupun dari lokasi pusat gempanya. Jadi, IWO tidak harus terjadi pada semua kejadian tsunami. Continue reading →